Jenggala : Jurnal Riset Pengembangan dan Pelayanan Kesehatan https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala id-ID andra.dwitama@iik.ac.id (Andra Dwitama Hidayat) bety.lania@iik.ac.id (Bety Lania Arrumsari) Jum, 09 Jan 2026 08:15:50 +0000 OJS 3.2.1.1 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Pengaruh Penggunaan Terapi Elektroakupuntur Pada Titik Jian Yu, Jian Jing, Jian Qian, Tian Zong Dan Binao Terhadap Pasien Frozen Shouder https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/295 <p><em>Frozen Shoulder </em>adalah peradangan sendi bahu kronis <em>non-spesific</em>, di tandai terbatasnya rentan gerak dan sakit yang timbul bisa berkembang perlahan. <em>Frozen shoulder </em>lebih banyak wanita berusia 40- 60 th. Penyebab penyakit identik dengan serangan AC dan kipas angin. Dalam ilmu TCM, <em>Frozen shoulder </em>disebabkan pertahanan qi, xue atau darah yang lemah, yang menyebabkan patoghen luar masuk kedalam tubuh, dan timbulah radang sendi. Akupuntur adalah terapi pereda nyeri, yang memiliki strimulasi secara elektrik dinamakan elektroakupuntur. <strong>Tujuan: </strong>mengetahui frekuensi nyeri sebelum dan sesudah terapi akupuntur maupun elektroakupuntur. <strong>Methode</strong>: penelitian kuantitatif, metode <em>pre-pos test group </em>menggunakan quasi experiment. dilakukan selama 1 bulan, satu minggu 2 kali terapi. <strong>Hasil: </strong>nyeri sebelum dan setelah. terapi akupuntur maupun elektroakupuntur, uji <em>paried t-test </em>memiliki nilai signifikan <em>p </em>= 0,000 , (<em>p</em>) &lt; 0,05 yang mengartikan ada perbedaan sebelum dan setelah terapi. <strong>Kesimpulan: </strong>terdapat penurunan itensitas nyeri sebelum dan setelah terapi, adanya perbaikan tanda gejala di setiap minggunya. frozen shoulder, akupuntur, elektroakupuntur, angin dingin lembab.</p> Dyah Asih Fatikha Cahyaningrum, Muhamad Zainuddin, Forman Novrindo Sidjabat, Maria Magdalena Riyaniarti Estri Wulandari Hak Cipta (c) 2026 Dyah Asih Fatikha Cahyaningrum, Muhamad Zainuddin, Forman Novrindo Sidjabat, Maria Magdalena Riyaniarti Estri Wulandari https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/295 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Scoping Review Penelitian Stunting di Indonesia: Tren, Tantangan, dan Arah Penelitian Masa Depan https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/331 Latar Belakang: Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia, mengingat dampaknya terhadap kualitas sumber daya manusia di masa depan. Penelitian mengenai stunting di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam satu dekade terakhir, namun kajian yang memetakan tren, tantangan, dan arah penelitian masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan scoping review terhadap publikasi ilmiah tentang stunting di Indonesia, dengan menyoroti tema-tema penelitian yang dominan, kendala dalam implementasi intervensi, serta potensi arah penelitian di masa depan. Metode: Metode penelitian menggunakan pendekatan scoping review berdasarkan kerangka kerja PRISMA-ScR. Artikel yang relevan diidentifikasi melalui pencarian sistematis pada database nasional dan internasional dengan kriteria inklusi berupa penelitian empiris yang berfokus pada faktor determinan, intervensi gizi, serta peran sistem kesehatan dalam pencegahan stunting di Indonesia. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa tren penelitian stunting mengalami peningkatan signifikan, khususnya setelah tahun 2015, dengan fokus penelitian yang bervariasi. Faktor-faktor yang paling sering diteliti meliputi kondisi sosio-ekonomi keluarga, pola makan dan asupan gizi anak, sanitasi lingkungan, serta peran layanan kesehatan. Selain itu, intervensi spesifik seperti pemberian makanan tambahan (PMT), edukasi gizi, serta program sensitif seperti perbaikan sanitasi dan pemberdayaan masyarakat terbukti memberikan kontribusi terhadap penurunan prevalensi stunting. Kesimpulan: Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa stunting di Indonesia merupakan masalah multidimensi yang memerlukan pendekatan interdisipliner dan kolaborasi lintas sektor. Arah penelitian ke depan sebaiknya menekankan pada evaluasi efektivitas intervensi berbasis komunitas, integrasi teknologi digital dalam pemantauan gizi, serta penguatan kebijakan kesehatan yang lebih kontekstual sesuai dengan keragaman sosial budaya masyarakat Indonesia. Ardiansyah Pandayu, Siti Nurfadilah H, Nisa'i Daramita Supriyono Hak Cipta (c) 2026 Ardiansyah Pandayu, Siti Nurfadilah H, Nisa'i Daramita Supriyono https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/331 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Peran Faktor Ibu dalam Dinamika Kejadian Stunting: Sebuah Studi Kualitatif https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/337 Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi prioritas di Indonesia karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas di masa depan. Faktor ibu, seperti pengetahuan gizi, praktik pemberian makanan, serta kondisi sosial ekonomi, berperan penting dalam mencegah maupun memperburuk kejadian stunting. Namun, kajian kualitatif yang menggali secara mendalam pengalaman ibu dalam konteks ini masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan faktor ibu dengan kejadian stunting pada anak balita berdasarkan pengalaman dan persepsi ibu serta tenaga kesehatan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Informan terdiri dari lima ibu yang memiliki anak balita stunting dan dua tenaga kesehatan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik induktif. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan member checking kepada informan. Hasil: Diperoleh tiga tema utama: (1) keterbatasan pengetahuan ibu tentang gizi dan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK); (2) hambatan dalam praktik pemberian makanan dan pemantauan tumbuh kembang akibat beban kerja dan rendahnya dukungan keluarga; serta (3) pengaruh kondisi sosial ekonomi dan keterbatasan akses layanan kesehatan terhadap risiko stunting. Kesimpulan: Faktor ibu berperan besar terhadap kejadian stunting melalui interaksi antara pengetahuan, praktik pengasuhan, dan kondisi sosial ekonomi. Upaya pencegahan perlu difokuskan pada peningkatan kapasitas ibu, dukungan keluarga, dan akses layanan kesehatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan ibu balita. Astri Yunita, Liya Ni'matul Maula Hak Cipta (c) 2026 Astri Yunita, Liya Ni'matul Maula https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/337 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Tinjauan Waktu Tunggu Pelayanan Pasien Rawat Jalan Dalam Implementasi Rekam Medis Elektronik di UPTD Puskesmas Wonorejo Kabupaten Kediri https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/281 Elisa Putri, Ninda Mulya Ike Ardila, Reni Trianing Tyas Hak Cipta (c) 2026 Elisa Putri, Ninda Mulya Ike Ardila, Reni Trianing Tyas https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/281 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Diet Adherence among Type 2 Diabetes Mellitus Patients at Pekauman Public Health Center https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/316 <p><em>Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder characterized by persistent hyperglycemia, which requires long-term management including strict dietary adherence. Non-adherence to dietary recommendations increases the risk of poor glycemic control and diabetes-related complications. This study aimed to describe the level of diet adherence among patients with T2DM at Pekauman Public Health Center in 2023. A descriptive cross-sectional study was conducted in July 2023 involving 30 respondents with T2DM who met the inclusion criteria. Data were collected using a structured questionnaire assessing adherence to dietary components including portion size, food type, and meal schedule. Data were analyzed using univariate methods to generate frequency distributions. Of the 30 respondents, 53.3% were non-adherent to dietary portion control, 66.7% were non-adherent to food type recommendations, and 56.7% were non-adherent to meal schedule adherence. Most respondents were female (73.3%), aged &gt;50 years (50%), with the majority having senior high school education (36.7%) and working as housewives (46.7%). The majority of T2DM patients at Pekauman Public Health Center did not adhere to recommended dietary guidelines in terms of portion size, food type, and meal schedule. Strengthened health education and multidisciplinary collaboration between doctors, nutritionists, and community health workers are essential to improve dietary adherence and prevent complications.</em></p> Muhammad Rais Faisal, Rusdiana Silaban Hak Cipta (c) 2026 Muhammad Rais Faisal, Rusdiana Silaban https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/316 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Keterlibatan Kepuasan Kerja Pada Work Engagement Perawat Di Rumah Sakit https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/332 Latar belakang: Profesi perawat memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pelayanan rumah sakit, namun sering kali mengalami tekanan kerja tinggi yang berdampak pada keterikatan kerja. Keterikatan kerja yang rendah dapat menurunkan kinerja dan meningkatkan turnover perawat.Salah satu faktor yang dapat meningkatkan keterikatan kerja adalah kepuasan kerja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kepuasan kerja terhadap keterikatan kerja pada perawat di RSM Ahmad Dahlan Kota Kediri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan analisis regresi linear sederhana. Hasil: Dari 143 responden yang didapatkan, sebagian besar berada pada rentang usia 26-35 tahun (59,4%), dengan jenis kelamin mayoritas perempuan (71%), serta memiliki pendidikan terakhir pada jenjang Sarjana (49%), sedangkan untuk status kepegawaian mayoritas perawat berstatus kontrak (52%), dengan lama kerja terbanyak pada rentang 6-10 tahun (38%). Analisis deskriptif indikator kepuasan kerja tertinggi adalah hubungan kerja (3,97%) sedangkan indikator keterikatan kerja tertinggi adalah vigor (3,95%). Uji statistik menunjukkan bahwa kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap keterikatan kerja (sig 0,000). Simpulan dan saran: Kepuasan kerja berpengaruh terhadap keterikatan kerja perawat. Oleh karena itu, rumah sakit diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja guna memperkuat keterikatan kerja perawat. Kata Kunci: Perawat, Kepuasan Kerja, Keterikatan Kerja ALITA DEWI PERCUNDA, Medica Selvia Maharani Hak Cipta (c) 2026 ALITA DEWI PERCUNDA, Medica Selvia Maharani https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/332 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Studi Ergonomi Terhadap Tingkat Pencahayaan, Suhu, dan Kelembapan Lingkungan Kerja di PR. Alaina https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/349 <p>Lingkungan kerja fisik, terutama di pabrik, memegang peran penting dalam menentukan tingkat kenyamanan, keselamatan, dan pada akhirnya, produktivitas pekerja. Salah satu aspek penting dalam ergonomi adalah menciptakan kondisi lingkungan fisik yang optimal. Pencahayaan ruang kerja tidak cukup memadai, dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi pekerja. Selain itu, suhu dan kelembapan terlalu tinggi dapat menyebabkan kualitas udara di dalam ruangan akan menurun. Meskipun terdapat standar dan regulasi terkait lingkungan kerja, namun implementasi dan evaluasi dari ketiga faktor lingkungan fisik meliputi pencahayaan, suhu, dan kelembapan secara berkala masih perlu dikaji lebih mendalam. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif, di mana peneliti melakukan pengamatan, pengukuran, dan pencatatan terhadap fenomena yang terjadi pada variabel yang diteliti. Data diperoleh dengan melakukan pengukuran terhadap intensitas pencahayaan setempat yang dilakukan pada meja kerja sebanyak 133 titik, sedangkan pengukuran suhu dan kelembapan dilakukan pada 6 titik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas pencahayaan di ruang pelintingan PR. Alaina tidak memenuhi standar karena intensitas pencahayaan hasil pengukuran berada dibawah standar dengan pencahayaan paling rendah sebesar 108 lux dan paling tinggi hanya sebesar 342 lux. Hasil pengukuran tersebut masih jauh dibawah standar SNI 03-6197-2000. Sedangkan hasil pengukuran suhu dan kelembapan ruang pelintingan PR. Alaina termasuk dalam kategori tinggi dan tidak sesuai standar karena melebihi nilai ambang batas (NAB) yang direkomendasikan yaitu 23 – 26 °C. Suhu terendah sebesar 27,1 °C dan suhu paling tinggi sebesar 30,0 °C. Sedangkan kelembapan di ruang pelintingan menunjukkan hasil melebihi NAB yang direkomendasikan yaitu sebesar 40 – 60 %. Hasil pengukuran kelembapan paling rendah 70,8% dan kelembapan paling tinggi 76,5%. Berdasarkan hasil pengukuran terhadap pencahayaan, suhu dan kelembapan tersebut belum memenuhi kriteria ergonomis untuk aspek fisik lingkungan kerja.</p> Ekawati Wasis Wijayati, Azalia Nurfitria Hak Cipta (c) 2026 Ekawati Wasis Wijayati, Azalia Nurfitria https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/349 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH RUTINITAS SPORT MASSAGE DAN HOT BATH TERHADAP PENURUNAN KELELAHAN PADA ATLET SEPAKBOLA SSB TADULAKO WARRIORS https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/355 <p>. Dalam olahraga sepakbola pemain sering mengalami kelelahan pada saat setelah latihan, Kelelahan merupakan menurunnya kemampuan dalam melakukan aktivitas fisik, secara umum gejala kelelahan yang lebih dekat adalah pada pengertian kelelahan fisik atau physical fatigue dan kelelahan mental atau mental fatigue. Intervensi lain yang dapat diberikan untuk mengurangi kelelahan antara lain adalah dengan pemberian hot bath dan sport massage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sport massage dan hot bath terhadap kelelahan pada pemain sepakbola dan juga untuk mengetahui beda pengaruh antar kedua intervensi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis quasi eksperimen, dengan pendekatan pre and post test design. Sampel berjumlah 30 orang diambil melalui metode Purposive Sampling, pengukuran dalam penelitian menggunakan Visual Analogue Scale for Fatigue (VAS-F) untuk mengukur nilai derajat kelelahan. Dari hasil uji T Dependent pada kelompok sport massage mendapatkan hasil 50,93 (t hitung) &gt; 2,145 (t tabel) yang berarti menunjukkan ada pengaruh pemberian sport massage terhadap kelelahan, pada kelompok hot bath mendapatkan hasil 59,56 (t hitung) &gt; 2,145 (t tabel) yang berarti menunjukkan ada pengaruh pemberian hot bath terhadap kelelahan, Interpretasi hasil uji T Independent beda pengaruh pemberian sport massage dan hot bath terhadap kelelahan pada pemain sepakbola mendapatkan nilai 8,365 (t hitung) &gt; 2,145 yang artinya ada beda pengaruh pemberian sport massage dan hot bath terhadap kelelahan pada pemain sepakbola.</p> Gustaman Candra Pardini Hak Cipta (c) 2026 Gustaman Candra Pardini https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/355 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Analisa Jumlah Abortus di Nusa Tenggara Barat Tahun 2019 -2022 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/130 <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jumlah kasus abortus di Provinsi Nusa Tenggara Barat selama periode tahun 2019–2022. Abortus merupakan salah satu isu kesehatan reproduksi yang masih menjadi perhatian serius karena berdampak tidak hanya pada kondisi fisik perempuan, tetapi juga pada aspek psikologis, sosial, dan kesejahteraan jangka panjang. Tingginya angka abortus dapat mencerminkan adanya permasalahan dalam akses layanan kesehatan, pemahaman kesehatan reproduksi, serta kondisi sosial ekonomi masyarakat. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari sumber resmi, yaitu Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat dan data rumah sakit rujukan yang menangani kasus abortus. Penelitian ini menggunakan metode analisis data statistik deskriptif untuk menggambarkan jumlah dan tren kasus abortus selama empat tahun terakhir, sehingga dapat diketahui pola peningkatan atau penurunan kasus dari waktu ke waktu. Analisis dilakukan dengan membandingkan jumlah kasus abortus per tahun untuk melihat dinamika yang terjadi selama periode penelitian. Hasil analisis menunjukkan adanya variasi jumlah kasus abortus yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain akses terhadap pelayanan kesehatan reproduksi, tingkat pendidikan seksual, kondisi ekonomi, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan secara rutin. Selain itu, perubahan kebijakan dan situasi sosial juga diduga berkontribusi terhadap fluktuasi angka abortus. Temuan dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan publik di bidang kesehatan reproduksi, khususnya dalam upaya menekan angka abortus dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi perempuan. Hasil penelitian ini juga dapat dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan terkait untuk memperkuat program edukasi, penyuluhan, dan pendampingan bagi perempuan usia reproduksi di Provinsi Nusa Tenggara Barat.</p> Rengga Bagas Abhiseka, Deni Luvi Jayanto, Andra Dwitama Hidayat, Ni'matu Zuliana Hak Cipta (c) 2026 Rengga Bagas Abhiseka, Deni Luvi Jayanto, Andra Dwitama Hidayat, Ni'matu Zuliana https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/130 Jum, 09 Jan 2026 00:00:00 +0000 Effectiveness of Acupuncture and Moxibustion Therapy in Patients with Low Back Pain https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/297 <p>Nyeri pinggang merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang umum dialami masyarakat. Salah satu pendekatan pengobatan komplementer yang digunakan adalah akupuntur dan moksibusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi akupuntur dan moksa pada penderita nyeri pinggang dengan sindrom defisiensi yin ginjal. Desain penelitian menggunakan metode kuantitatif eksperimental dengan rancangan pre-post test pada satu kelompok. Sebanyak 12 responden diberikan terapi akupuntur pada titik Shen Shu (BL 23), Qi Hai Shu (BL 24), Da Chang Shu (BL 25), Yao Yang Guan (DU 3), Guan Yuan Shu (BL 26), dan Wei Zhong (BL 40), dikombinasikan dengan terapi moksa selama 10 sesi dalam 5 minggu. Hasil analisis menunjukkan penurunan signifikan pada derajat nyeri dari rata-rata 9,08 menjadi 2,50 setelah intervensi, dengan uji Paired T-Test menghasilkan nilai p = 0,000 (p &lt; 0,05). Kesimpulan: terapi akupuntur dan moksa efektif menurunkan nyeri pinggang dengan pendekatan penguatan ginjal, penyeimbangan qi, dan peredaan nyeri.</p> Rosmelia Andriyani, Muhamad Zainuddin, Forman Novrindo Sidjabat, Maria Magdalena Riyaniarti Estri Wulandari Hak Cipta (c) 2026 Rosmelia Andriyani, Muhamad Zainuddin, Forman Novrindo Sidjabat, Maria Magdalena Riyaniarti Estri Wulandari https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/297 Rab, 31 Des 2025 00:00:00 +0000 GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP WANITA USIA SUBUR TERHADAP KEJADIAN ANEMIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CAMPUREJO KOTA KEDIRI https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/298 <p>Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh Wanita Usia Subur (WUS) dan dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup, menurunnya produktivitas, serta meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan. Penelitian ini <strong>bertujuan </strong>untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap Wanita Usia Subur terhadap kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Campurejo, Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan <strong>metode</strong> deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 210 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. <strong>Hasil</strong> penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia 36–49 tahun (70,5%), berpendidikan terakhir SMA (63,3%), dan mayoritas bekerja sebagai ibu rumah tangga (62,4%). Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada dalam kategori cukup (58,1%), sedangkan sikap terhadap pencegahan anemia tergolong baik (60%). Meskipun demikian, masih ditemukan 31% responden yang memiliki riwayat anemia dan 30,5% mengalami gejala anemia. <strong>Kesimpulan</strong> menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan dan sikap responden terhadap anemia sudah tergolong baik, namun masih diperlukan intervensi edukatif dan promotif yang berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan kesadaran dan tindakan nyata dalam pencegahan anemia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam perencanaan program kesehatan di tingkat puskesmas untuk menurunkan angka kejadian anemia pada WUS.</p> <p>Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering dialami oleh Wanita Usia Subur (WUS) dan dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup, menurunnya produktivitas, serta meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan. Penelitian ini <strong>bertujuan </strong>untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap Wanita Usia Subur terhadap kejadian anemia di wilayah kerja Puskesmas Campurejo, Kota Kediri. Penelitian ini menggunakan <strong>metode</strong> deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 210 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tertutup yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. <strong>Hasil</strong> penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia 36–49 tahun (70,5%), berpendidikan terakhir SMA (63,3%), dan mayoritas bekerja sebagai ibu rumah tangga (62,4%). Tingkat pengetahuan responden sebagian besar berada dalam kategori cukup (58,1%), sedangkan sikap terhadap pencegahan anemia tergolong baik (60%). Meskipun demikian, masih ditemukan 31% responden yang memiliki riwayat anemia dan 30,5% mengalami gejala anemia. <strong>Kesimpulan</strong> menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan dan sikap responden terhadap anemia sudah tergolong baik, namun masih diperlukan intervensi edukatif dan promotif yang berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan kesadaran dan tindakan nyata dalam pencegahan anemia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam perencanaan program kesehatan di tingkat puskesmas untuk menurunkan angka kejadian anemia pada WUS.</p> Akhmadi Abbas, Krisnita Dwi Jayanti, Afina Putri Utomo, Evita Anistasya Harliana, Jhon Sub Hak Cipta (c) 2026 Akhmadi Abbas, Krisnita Dwi Jayanti, Afina Putri Utomo, Evita Anistasya Harliana, Jhon Sub https://creativecommons.org/licenses/by/4.0 https://jurnal.bhakta.ac.id/index.php/jenggala/article/view/298 Rab, 31 Des 2025 00:00:00 +0000